Assalamu 'Alaikum

SELAMAT DATANG, JANGAN LUPA KUNJUNGI CHANNEL TRIYONO SUSILO DAN BLOG triyonosusiloo.wordpress.com yach...

Senin, 10 Desember 2012

Pentingnya Persatuan dan Kesatuan Bagi Umat Islam 3


Persaudaraan antara orang-orang beriman adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa ditawar lagi. Ibarat sebuah keluarga, apakah kita akan membenci saudara kita yang bersalah? Apakah kita akan memusuhinya? Apakah kita akan senantiasa memperoloknya? Ataukah kita selalu mengajaknya bertengkar? Senangkah kita makan bangkai saudara kita?  Sudah barang tentu musuh Islam yang akan tertawa melihat kita saling bertengkar dan baku hantam. Sehingga kekuatan kaum muslimin melemah, karena muslim satu dengan yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan. Seperti disebutkan dalam Hadits, Rasulullah bersabda: 

"Rasulullah saw bersabda bahwa orang mukmin yang satu dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan  yang saling menguatkan satu sama lain”.
Dalam surah lain, Al-Anfal ayat 46, Allah berfirman:
(#qãèÏÛr&ur ©!$# ¼ã&s!qßuur Ÿwur (#qããt»uZs? (#qè=t±øÿtGsù |=ydõs?ur ö/ä3çtÍ ( (#ÿrçŽÉ9ô¹$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# yìtB šúïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÍÏÈ  
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
Demikian banyak ayat-ayat yang memerintahkan agar kita senantiasa menjaga persatuan dan melarang perpecahan. Sebagai bagian dari umat Islam, barangkali kita ada disalah satu pihak dari dua pendapat yang berbeda. Kalaupun kita mendukung salah satunya, tentu saja bukan pada tempatnya untuk menjadikan perbedaan pandangan dan pendapat sebagai alasan untuk saling hujat, saling caci, saling maki, saling tuding, apalagi saling memberi label-label dan gelar-gelar yang buruk. Sehingga bukan hal yang tepat buat kita untuk meninggalkan banyak kewajiban hanya lantaran masih saja meributkan peninggalan perbedaan pendapat di masa lalu.
Saat sekarang ini, sebagai umat Islam, kita justru sedang berada di depan mulut harimau. Mulai dari gerakan anti-Islam di Jerman, konflik Palestina yang tidak kunjung reda, konflik Afghanistan, Bosnia, Filipina, Poso dan beberapa tempat dibelahan benua yang lain. Belum lagi kasus-kasus hujatan terhadap Rasulullah I, pembakaran-pembakaran kitab suci Al-Qur’an, larangan berjilbab, larangan Adzan yang dikeraskan, maraknya kristenisasi di wilayah terpencil dan keluarga miskin. Ditambah kian banyaknya aliran-aliran sesat, munculnya nabi-nabi palsu, berkembangnya paham liberalisme, sekulerisme, pluralisme, syiah, Ahmadiyah, pornoaksi, pornografi, tuntutan persamaan gender, dan ditolaknya perda-perda syariah yang mengakibatkan kemaksiatan semakin merajalela.
Coba kita cari dan cermati, maksiat apa yang tidak ada di Indonesia? Negeri kita yang dikenal sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, justru ditemukan berdiri pabrik narkoba terbesar di dunia, belum lagi kasus perdagangan manusia, korupsi, peradilan yang bersifat tajam ke bawah dan tumpul ke atas.[1] Maling sandal, semangka, pisang, piring bisa diseret dipenjara, tapi koruptor bebas gentangan piknik keluar negeri.
Catatan kemaksiatan di negeri kita ini memang sangat memprihatinkan. Dalam masalah penggunaan pornografi, Indonesia tercatat sebagai negara porno nomor dua di dunia, setelah Rusia. Kalau di negara-negara seperti China situs porno di internet diblokir, akan tetapi di Indonesia justru sebaliknya.
Pantaslah perilaku seks bebas merajalela di kalangan remaja dan pelajar, sehingga banyak kasus bayi lahir di luar nikah sampai maraknya aborsi. Selain itu penggunaan minuman keras yang bebas meluas telah nyata menimbulkan dampak seperti geng dan berandal motor yang rajin tawuran dan kerap kali membuat nyawa melayang. Bahkan pengguna narkoba di Indonesia hingga Agustus 2011 menurut BNN ada 3, 8 juta orang, 70 persen dari pemakai adalah remaja di bawah usia 18 tahun. Dari jumlah tersebut diperkirakan setiap tahun mati 15 ribu orang.[2]
Negeri yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa  ini pun juga sering dilanda bencana. Anehnya bencana yang kerap menimpa itu bukannya dijadikan pelajaran dan peringatan tapi semakin membuat rakyatnya terlena, ini terbukti dengan adanya ruwatan-ruwatan massal, sesaji-sesaji, penyembelihan-penyembelihan dengan tujuan tolak bala’, bahkan maraknya perdukunan yang terang-terangan melalui media televisi dan telekomunikasi.
Jadi bukanlah waktu yang tepat jika kita masih eker-ekeran (saling bertarung) dengan sesama saudara kita sendiri, hanya lantaran perbedaan pendapat. Sebaliknya, kita justru harus saling membela, menguatkan, membantu dan mengisi kekurangan masing-masing. Perbedaan pandangan sudah pasti ada dan tidak akan pernah ada habisnya. Kalau kita terjebak untuk terus bertikai, maka para pemangsa itu akan bertepuk tangan.

Allah berfirman:
`s9ur 4ÓyÌös? y7Ytã ߊqåkuŽø9$# Ÿwur 3t»|Á¨Y9$# 4Ó®Lym yìÎ6®Ks? öNåktJ¯=ÏB 3 ö@è% žcÎ) yèd «!$# uqèd 3yçlù;$# 3 ÈûÈõs9ur |M÷èt7¨?$# Nèduä!#uq÷dr& y÷èt/ Ï%©!$# x8uä!%y` z`ÏB ÉOù=Ïèø9$#   $tB y7s9 z`ÏB «!$# `ÏB <cÍ<ur Ÿwur AŽÅÁtR ÇÊËÉÈ  
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
Coba kita telusuri kehidupan para sahabat Nabi I, para tabi’in dan para mujtahid setelahnya mereka tetap bersatu meski berbeda pendapat. Walaupun demikian mereka tetap dalam satu barisan untuk meninggikan kalimat Allah. Hal ini bisa terjadi karena mereka tetap merujuk pada referensi yg tepat yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai pedoman.
Sudah sewajarnya masing-masing pendapat akan mengklaim bahwa pendapatnyalah yang paling benar dan menganggap hujjah mereka yang paling kuat. Namun sebagai seorang muslim, sikap kita atas perbedaan itu tidak dengan menjelekkan atau melecehkan pendapat yang berbeda dengan pendapat yang telah kita pegang dan kita yakini selama ini. Karena bila hal itu yang diupayakan, hanya akan menghasilkan perpecahan dan rusaknya persaudaraan Islam.
Daripada kita sibuk saling dengki, di mana hal ini dapat mengotori hati dan jiwa kita akan lebih baik jika kita tanpa segan dan rasa enggan mendoakan saudara kita.

 Allah berfirman dalam Surah al-Hasyr ayat 10:
šúïÏ%©!$#ur râä!%y` .`ÏB öNÏdÏ÷èt/ šcqä9qà)tƒ $uZ­/u öÏÿøî$# $oYs9 $oYÏRºuq÷z\}ur šúïÏ%©!$# $tRqà)t7y Ç`»yJƒM}$$Î/ Ÿwur ö@yèøgrB Îû $uZÎ/qè=è% yxÏî tûïÏ%©#Ïj9 (#qãZtB#uä !$oY­/u y7¨RÎ) Ô$râäu îLìÏm§ ÇÊÉÈ  
 “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.
Demikian juga sabda Nabi I artinya “Janganlah kalian saling hasud/dengki saling marah saling memutuskan dan janganlah kalian saling bermusuhan akan tetapi jadilah hamba Allah yg bersaudara.” Demikianlah yg seharusnya terjadi sesama muslim dan bukan sebaliknya.
Di antara tipu daya iblis adalah menjerumuskan sebagian mereka untuk menggunjing saudaranya sendiri/mencela ulama karena perbedaan pendapat. padahal hal itu terkadang hanyalah masalah-masalah yang sifatnya ijtihadi yang sangat memungkinkan terjadi perbedaan pendapat.[3]
Jika kita dapati saudara-saudara kita yang saling menuding bahkan sampai tidak mau bertegur sapa satu dengan lainnya, hanya lantaran perbedaan pendapat dalam ijtihad, sungguh sangat disayangkan. Sebab yang mereka sikapi dengan arogan itu sesungguhnya hanya sebuah pendapat di antara sekian banyak pendapat. Akan lebih pas dan tepat sasaran bila sikap kasar dan keras itu ditujukan kepada orang-orang kafir harbi yang jelas-jelas telah membunuh jutaan nyawa umat Islam.
Itulah faktanya, saling maki dan saling cela, sudah ditulis di berbagai macam situs yang dibaca oleh ribuan orang, juga disebar dijejaring sosial, bahkan diterbitkan dalam berbagai majalah dan buku, padahal penyebabnya hanya sebatas perbedaan pendapat. Apalagi perbedaan suatu pendapat yang ada justru diperuncing dengan sikap saling mentahdzir saudaranya. Padahal kitab yang dipakai dan dikaji sama, ulama yang jadi rujukan juga sama. Tapi kenapa ada juga yang tidak tegur sapa, saling kritik, gara-gara tidak berpakaian panjang dan tidak menutup kepala?
Sebaiknya sebelum melontarkan tuduhan kepada sesama muslim, terlebih dahulu bersilaturahmi serta berdialog dengan kepala dingin, agar sesuatu yang kita anggap salah tersampaikan terlebih dahulu kepada yang langsung berurusan. Bukan malah mengumbar-umbarnya.
Sebab, bisa jadi apa yang dituduhkan itu hanya mewakili sikap suatu jama’ah di masa lalu, bisa jadi itu merupakan pemahaman yang terdahulu, padahal sekarang jama’ah/lembaga/yayasan itu sudah berubah. Sudah merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunah menurut pemahaman para sahabat. Bisa jadi dengan bergantinya pimpinan atau pengurus jama’ah/lembaga/yayasan pemahamannya bertolak 180 derajat. Masak kita tidak rela bila ada jama’ah/lembaga/yayasan yang telah memperbaiki diri? Dan yang paling penting, setiap vonis yang kita keluarkan wajib kita pertanggung-jawabannya bukan hanya di dunia ini saja, namun yang lebih berat lagi nanti di akhirat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ada sebagian orang yang senantiasa mengkritik dan menyalahkan orang lain dengan melupakan kebaikan-kebaikan seluruh, kelompok dan pribadi serta selalu menfitnah mereka. Ia seperti lalat, meninggalkan tempat yang bersih dan sehat, lalu hinggap di tempat yang luka dan kotoran. Ini merupakan bagian dari bentuk keburukan jiwa dan kerusakan pikiran.[4]
Mungkin saja suatu kelompok atau jamaah punya satu dua kesalahan, dan hal itu tentu sangat manusiawi. Bahkan memang kita wajib meluruskan kesalahan yang ada pada saudara kita itu. Tapi kurang bijak rasanya bila setiap kesalahan saudara kita selalu kita sikapi dengan tuduhan sesat, caci-maki, gelar-gelar yang buruk, atau pengumbaran aib mereka, di berbagai media. Seolah kita bergembira kalau ada saudara kita yang salah jalan. Karena bisa kita jadikan bahan pergunjingan dan cemoohan. Kenapa kita musti menyibukan diri dengan mencari-cari kesalahan dan kekurangan kelompok lain. Bahkan komentar yang kita tujukan kepada mereka terasa pahit, pedas, dan jika itu ditujukan kepada kita, kita pun juga sakit hati dan naik darah.
Tentu sikap-sikap seperti ini justru sangat bertentangan dengan manhaj Nabi I, para sahabat dan juga manhaj salafus salih. Manhaj ini cuma kita yakini dihati, cuma bisa diucapkan dengan lisan, akan tetapi sangat sulit untuk kita terapkan dan kita amalkan. Wahai saudaraku, mulai saat ini marilah kita tanamkan persatuan, kesatuan, kebersamaan, kita rapatkan barisan, dan yang paling penting, kita saling mendo’akan.
Semoga Allah swt memberikan taufiq, hidayah dan ilmu yang luas kepada kita semua dan senantiasa menyatukan hati kita dalam iman. Amin.


[1] Ceramah Habib Riziq Syihab dalam rangka Milad ke-1 DPW FPI Solo tanggal 10 November 2006 dengan tema “Tegakkan Syari’at, Berantas Maksiat”
[2] Suara Islam, edisi 136 oleh Sidiq Ramadhan tgl. 09 Mei 2012.
[3] Tips Belajar Para Ulama oleh Dr. ‘A’idh Al-Qorni M.A hal.72.
[4] Ibid hal. 164-165 yang dikutip Ibnu Sa’di dalam kitab Thariqul Wushul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar