Persaudaraan antara
orang-orang beriman adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa ditawar lagi.
Ibarat sebuah keluarga, apakah kita akan membenci saudara kita yang bersalah?
Apakah kita akan memusuhinya? Apakah kita akan senantiasa memperoloknya?
Ataukah kita selalu mengajaknya bertengkar? Senangkah kita makan bangkai
saudara kita? Sudah barang tentu musuh
Islam yang akan tertawa melihat kita saling bertengkar dan baku hantam. Sehingga kekuatan kaum muslimin
melemah, karena muslim satu dengan yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling
menguatkan. Seperti disebutkan dalam Hadits, Rasulullah bersabda:
"Rasulullah saw bersabda bahwa orang mukmin yang satu dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain”.
"Rasulullah saw bersabda bahwa orang mukmin yang satu dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain”.
Dalam surah lain, Al-Anfal
ayat 46, Allah berfirman:
(#qãèÏÛr&ur ©!$# ¼ã&s!qßuur wur (#qããt»uZs? (#qè=t±øÿtGsù |=ydõs?ur ö/ä3çtÍ ( (#ÿrçÉ9ô¹$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# yìtB úïÎÉ9»¢Á9$# ÇÍÏÈ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu
berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu
dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
Demikian banyak ayat-ayat
yang memerintahkan agar kita senantiasa menjaga persatuan dan melarang
perpecahan. Sebagai bagian dari umat Islam, barangkali kita ada disalah satu
pihak dari dua pendapat yang berbeda. Kalaupun kita mendukung salah satunya,
tentu saja bukan pada tempatnya untuk menjadikan perbedaan pandangan dan
pendapat sebagai alasan untuk saling hujat, saling caci, saling maki, saling
tuding, apalagi saling memberi label-label dan gelar-gelar yang buruk. Sehingga
bukan hal yang tepat buat kita untuk meninggalkan banyak kewajiban hanya
lantaran masih saja meributkan peninggalan perbedaan pendapat di masa lalu.
Saat sekarang ini, sebagai
umat Islam, kita justru sedang berada di depan mulut harimau. Mulai dari
gerakan anti-Islam di Jerman, konflik Palestina yang tidak kunjung reda,
konflik Afghanistan, Bosnia, Filipina, Poso dan beberapa tempat dibelahan benua
yang lain. Belum lagi kasus-kasus hujatan terhadap Rasulullah I, pembakaran-pembakaran
kitab suci Al-Qur’an, larangan berjilbab, larangan Adzan yang dikeraskan,
maraknya kristenisasi di wilayah terpencil dan keluarga miskin. Ditambah kian
banyaknya aliran-aliran sesat, munculnya nabi-nabi palsu, berkembangnya paham
liberalisme, sekulerisme, pluralisme, syiah, Ahmadiyah, pornoaksi, pornografi, tuntutan
persamaan gender, dan ditolaknya perda-perda syariah yang mengakibatkan
kemaksiatan semakin merajalela.
Coba kita cari dan cermati,
maksiat apa yang tidak ada di Indonesia?
Negeri kita yang dikenal sebagai negeri
berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, justru ditemukan berdiri pabrik narkoba terbesar di dunia, belum
lagi kasus perdagangan manusia, korupsi, peradilan yang bersifat tajam ke bawah
dan tumpul ke atas.[1] Maling sandal, semangka,
pisang, piring bisa diseret dipenjara, tapi koruptor bebas gentangan piknik
keluar negeri.
Catatan kemaksiatan di negeri kita ini memang sangat
memprihatinkan. Dalam masalah penggunaan pornografi, Indonesia tercatat sebagai negara
porno nomor dua di dunia, setelah Rusia. Kalau di negara-negara seperti China situs porno di internet diblokir, akan
tetapi di Indonesia
justru sebaliknya.
Pantaslah perilaku seks bebas merajalela di
kalangan remaja dan pelajar, sehingga banyak kasus bayi lahir di luar nikah sampai
maraknya aborsi. Selain itu penggunaan minuman keras yang bebas meluas telah
nyata menimbulkan dampak seperti geng dan berandal motor yang rajin tawuran dan
kerap kali membuat nyawa melayang. Bahkan pengguna narkoba di Indonesia hingga
Agustus 2011 menurut BNN ada 3, 8 juta orang, 70 persen dari pemakai adalah
remaja di bawah usia 18 tahun. Dari jumlah tersebut diperkirakan setiap tahun
mati 15 ribu orang.[2]
Negeri yang berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa ini pun juga
sering dilanda bencana. Anehnya bencana yang kerap menimpa itu bukannya
dijadikan pelajaran dan peringatan tapi semakin membuat rakyatnya terlena, ini
terbukti dengan adanya ruwatan-ruwatan massal, sesaji-sesaji,
penyembelihan-penyembelihan dengan tujuan tolak bala’, bahkan maraknya
perdukunan yang terang-terangan melalui media televisi dan telekomunikasi.
Jadi bukanlah waktu yang
tepat jika kita masih eker-ekeran (saling bertarung) dengan sesama saudara kita
sendiri, hanya lantaran perbedaan pendapat. Sebaliknya, kita justru harus
saling membela, menguatkan, membantu dan mengisi kekurangan masing-masing.
Perbedaan pandangan sudah pasti ada dan tidak akan pernah ada habisnya. Kalau
kita terjebak untuk terus bertikai, maka para pemangsa itu akan bertepuk
tangan.
Allah berfirman:
`s9ur 4ÓyÌös? y7Ytã ßqåkuø9$# wur 3t»|Á¨Y9$# 4Ó®Lym yìÎ6®Ks? öNåktJ¯=ÏB 3 ö@è% cÎ) yèd «!$# uqèd 3yçlù;$# 3 ÈûÈõs9ur |M÷èt7¨?$# Nèduä!#uq÷dr& y÷èt/ Ï%©!$# x8uä!%y` z`ÏB ÉOù=Ïèø9$# $tB y7s9 z`ÏB «!$# `ÏB <cÍ<ur wur AÅÁtR ÇÊËÉÈ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan
senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:
"Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan
Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang
kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
Coba kita telusuri
kehidupan para sahabat Nabi I, para tabi’in dan para mujtahid setelahnya mereka tetap bersatu
meski berbeda pendapat. Walaupun demikian mereka tetap dalam satu barisan untuk
meninggikan kalimat Allah. Hal ini bisa terjadi karena mereka tetap merujuk
pada referensi yg tepat yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai pedoman.
Sudah sewajarnya
masing-masing pendapat akan mengklaim bahwa
pendapatnyalah yang paling benar dan menganggap hujjah mereka yang paling kuat.
Namun sebagai seorang muslim, sikap
kita atas perbedaan itu tidak dengan menjelekkan
atau melecehkan pendapat yang berbeda dengan pendapat yang telah kita pegang dan kita yakini selama ini.
Karena bila hal itu yang diupayakan, hanya akan menghasilkan perpecahan dan
rusaknya persaudaraan Islam.
Daripada kita sibuk saling
dengki, di mana hal ini dapat mengotori hati dan jiwa kita akan lebih baik jika
kita tanpa segan dan rasa enggan mendoakan saudara kita.
Allah berfirman dalam Surah al-Hasyr ayat 10:
úïÏ%©!$#ur râä!%y` .`ÏB öNÏdÏ÷èt/ cqä9qà)t $uZ/u öÏÿøî$# $oYs9 $oYÏRºuq÷z\}ur úïÏ%©!$# $tRqà)t7y Ç`»yJM}$$Î/ wur ö@yèøgrB Îû $uZÎ/qè=è% yxÏî tûïÏ%©#Ïj9 (#qãZtB#uä !$oY/u y7¨RÎ) Ô$râäu îLìÏm§ ÇÊÉÈ
“Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa:
“Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman
lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati
Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyayang”.
Demikian juga sabda Nabi I artinya “Janganlah kalian saling hasud/dengki saling marah
saling memutuskan dan janganlah kalian saling bermusuhan akan tetapi jadilah
hamba Allah yg bersaudara.” Demikianlah yg seharusnya terjadi sesama muslim
dan bukan sebaliknya.
Di antara tipu daya iblis
adalah menjerumuskan sebagian mereka untuk menggunjing
saudaranya sendiri/mencela ulama karena perbedaan pendapat. padahal hal itu
terkadang hanyalah masalah-masalah yang sifatnya ijtihadi yang sangat
memungkinkan terjadi perbedaan pendapat.[3]
Jika kita dapati
saudara-saudara kita yang saling menuding bahkan sampai tidak mau bertegur sapa
satu dengan lainnya, hanya lantaran perbedaan pendapat dalam ijtihad, sungguh
sangat disayangkan. Sebab yang mereka sikapi dengan arogan itu sesungguhnya
hanya sebuah pendapat di antara sekian banyak pendapat. Akan lebih pas dan tepat sasaran bila
sikap kasar dan keras itu ditujukan kepada orang-orang kafir harbi yang
jelas-jelas telah membunuh jutaan nyawa umat Islam.
Itulah faktanya, saling
maki dan saling cela, sudah ditulis di berbagai macam situs yang dibaca oleh
ribuan orang, juga disebar dijejaring sosial, bahkan diterbitkan dalam berbagai
majalah dan buku, padahal penyebabnya hanya sebatas perbedaan pendapat. Apalagi
perbedaan suatu pendapat yang ada justru diperuncing dengan sikap saling
mentahdzir saudaranya. Padahal kitab yang dipakai dan dikaji sama, ulama yang
jadi rujukan juga sama. Tapi kenapa ada juga yang tidak tegur sapa, saling
kritik, gara-gara tidak berpakaian panjang dan tidak menutup kepala?
Sebaiknya sebelum
melontarkan tuduhan kepada sesama muslim, terlebih dahulu bersilaturahmi serta
berdialog dengan kepala dingin, agar sesuatu yang kita anggap salah
tersampaikan terlebih dahulu kepada yang langsung berurusan. Bukan malah
mengumbar-umbarnya.
Sebab, bisa jadi apa yang
dituduhkan itu hanya mewakili sikap suatu jama’ah di masa lalu, bisa jadi itu
merupakan pemahaman yang terdahulu, padahal sekarang jama’ah/lembaga/yayasan
itu sudah berubah. Sudah merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunah menurut
pemahaman para sahabat. Bisa jadi dengan bergantinya pimpinan atau pengurus
jama’ah/lembaga/yayasan pemahamannya bertolak 180 derajat. Masak kita tidak
rela bila ada jama’ah/lembaga/yayasan yang telah memperbaiki diri? Dan yang
paling penting, setiap vonis yang kita keluarkan wajib kita
pertanggung-jawabannya bukan hanya di dunia ini saja, namun yang lebih berat
lagi nanti di akhirat.
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah mengatakan bahwa ada sebagian orang yang senantiasa mengkritik dan
menyalahkan orang lain dengan melupakan kebaikan-kebaikan seluruh, kelompok dan
pribadi serta selalu menfitnah mereka. Ia seperti lalat, meninggalkan tempat
yang bersih dan sehat, lalu hinggap di tempat yang luka dan kotoran. Ini merupakan
bagian dari bentuk keburukan jiwa dan kerusakan pikiran.[4]
Mungkin saja suatu kelompok
atau jamaah punya satu dua kesalahan, dan hal itu tentu sangat manusiawi.
Bahkan memang kita wajib meluruskan kesalahan yang ada pada saudara kita itu.
Tapi kurang bijak rasanya bila setiap kesalahan saudara kita selalu kita sikapi
dengan tuduhan sesat, caci-maki, gelar-gelar yang buruk, atau pengumbaran aib
mereka, di berbagai media. Seolah kita bergembira kalau ada saudara kita yang
salah jalan. Karena bisa kita jadikan bahan pergunjingan dan cemoohan. Kenapa
kita musti menyibukan diri dengan mencari-cari kesalahan dan kekurangan
kelompok lain. Bahkan komentar yang kita tujukan kepada mereka terasa pahit,
pedas, dan jika itu ditujukan kepada kita, kita pun juga sakit hati dan naik
darah.
Tentu sikap-sikap seperti
ini justru sangat bertentangan dengan manhaj Nabi I, para sahabat dan juga
manhaj salafus salih. Manhaj ini cuma kita yakini dihati, cuma bisa diucapkan
dengan lisan, akan tetapi sangat sulit untuk kita terapkan dan kita amalkan.
Wahai saudaraku, mulai saat ini marilah kita tanamkan persatuan, kesatuan,
kebersamaan, kita rapatkan barisan, dan yang paling penting, kita saling
mendo’akan.
Semoga Allah swt memberikan taufiq, hidayah dan ilmu yang luas
kepada kita semua dan senantiasa menyatukan hati kita dalam iman. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar